Humor, Tantangan Besar bagi Penerjemah

Penerjemahan dapat dikatakan sebagai sesuatu yang menghubungkan dua kebudayaan. Kegunaannya terlihat dari bagaimana makna yang disampaikan pembicara dalam bahasa natifnya tersampaikan dengan baik ke telinga khalayak yang memiliki bahasa natif berbeda. Mengingat hal tersebut, penerjemah menjadi sesuatu yang vital di era di mana banyak sekali pertemuan, konferensi yang menmpertemukan pembicara dengan khalayak yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda, lebih spesifik, natif dalam bahasa yang berbeda.

Penerjemah harus memiliki pemahaman yang baik tentang topik bahasan yang dibawa oleh pembicara supaya dapat membuat ekspresi verbal yang jelas dan akurat, karena itu ingatan yang kuat serta kemampuan riset akan sangat membantu. Namun, penerjemah dapat menghadapi kesulitan besar saat ia harus menerjemahkan humor. Menerjemahkan lelucon secara akurat dapat membantu, namun tidak selalu diperlukan, lelucon biasanya hanya sebuah pembuka untuk mencairkan suasana mencegah khalayak mengantuk atau sebelum masuk ke pembahasan yang lebih serius. Beberapa pembicara menggunakan humor untuk menekankan poin pentin bahasannya. Dalam kasus ini, pesan yang diberikan lebih penting dibandingkan humornya, maka isi pesannya lah yang lebih penting untuk diterjemahkan.

Penerjemah harus memiliki dasar yang sangat kuat dalam berbahasa, khususnya yang berhubungan dengan kosa kata dan terminologi. Adalah hal yang lumrah bahwa penerjemah harus mencari informasi atas tema bahasan yang akan disampaikan oleh pembicara dan mempelajarinya untuk mendapat pemahaman atas topik tersebut serta kosa kata khusus yang mungkin akan muncul. Namun saat pembicara mulai mengeluarkan lelucon, penerjemah tidak dapat langsung menerjemahkannya secara harfiah. Saat-saat seperti inilah di mana penerjemah membutuhkan refleks yang luwes dan familiar terhadap istilah-istilah aneh yang digunakan pembicara. Penerjemah harus mengerti maksud dari sebuah lelucon, karena bisa jadi itu merupakan bagian penting dari pesan yang ingin disampaikan pembicara.

Beberapa humor yang paling sering digunakan dalam pembicaraan formal adalah sarkasme dan ironi. Sarkasme tidak memerlukan kemahiran setinggi ironi, terkadang pembicara menggunakan permainan kata dengan menggunakan kata yang memiliki lebih dari satu arti. Ironi biasanya digunakan dalam pembaasan yang lebih serius, ironi dilontarkan dengan nada dingin atau datar sehingga terkadang terlewat oleh penerjemah jika ia tidak peka terhadap lelucon tersebut. Kritik juga terkadang digunakan dalam berbagai bentuk kritik artistik. Kritik sosial kerap muncul dalam pertemuan atau konferensi internasional. Selera humor yang baik dapat menjadi instrumen efektif dalam perubahan sosial.

Mengingat kemampuan untuk menceritakan lelucon dapat meningkat dengan banyak berlatih, maka seorang penerjemah harus mengembangkan seni ini untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam menerjemahkan humor. Namun, jika lelucon yang dilontarkan oleh pembicara dirasa mustahil untuk diterjemahkan, penerjemah bisa meminta khalayak untuk tertawa. Dalam kasus seperti ini, sebagai usaha terakhir, penerjemah mengorbankan sebuah pesan untuk menjaga hubungan khalayak dengan pembicara serta dukungan terhadap penerjemah.